Dua minggu setelah kiriman bulanan masuk, gue udah ngitung receh di kolong kasur. Padahal baru tanggal 14. Sisa uang di rekening? Cukup buat beli indomie tiga hari ke depan, itu pun kalau nggak ada biaya print tugas dadakan. Padahal gue ngerasa udah hidup sederhana. Nggak nongkrong tiap malam, nggak beli kopi kekinian tiap hari. Tapi kok duitnya tetap aja lenyap tanpa jejak?
Kalau kamu mahasiswa rantau, kemungkinan besar kamu pernah atau sedang ada di posisi ini. Uang bulanan dari orang tua yang mestinya cukup sampai akhir bulan, tapi selalu terasa kayak pasir yang lolos dari sela jari. Nah, dari pengalaman boncos berulang itu, gue akhirnya belajar beberapa hal soal ngatur pengeluaran yang beneran works buat anak rantau.
Duit Kamu Bocor Bukan Karena Kamu Boros, Tapi Karena Nggak Kelihatan
Ini yang gue sadari setelah seminggu nyatet pengeluaran pakai aplikasi catatan di HP. Ternyata pengeluaran terbesar gue bukan yang gede-gede, tapi yang kecil-kecil dan sering: ongkos ojek online ke kampus, jajan gorengan sore, kuota tambahan, sama biaya fotokopi. Masing-masing cuma 5-15 ribu, tapi kalau dikali 30 hari, jumlahnya bisa nyampe sejuta lebih.
Masalahnya, pengeluaran kayak gini nggak kerasa karena kita nggak pernah ngitung. Kita cuma ngerasa "ah cuma sepuluh ribu doang". Padahal sepuluh ribu yang muncul tiap hari itu yang bikin dompet tipis di pertengahan bulan.
Baca juga: 5 Sinyal Gaji Kamu Bakal Bocor Halus, Pekerja Kantoran Wajib Curiga
Uang jajan kecil yang nggak dicatat itu kayak keran bocor: nggak berisik, tapi tetesannya ngabisin bak mandi.
Solusinya simpel banget: catat semuanya selama minimal seminggu. Nggak perlu rapi, nggak perlu pakai aplikasi mahal. Catatan di notes HP juga cukup. Tujuannya bukan biar kamu jadi orang pelit, tapi biar kamu lihat ke mana duit kamu sebenarnya pergi.
Cara Bagi Uang Bulanan yang Nggak Bikin Kamu Menderita
Banyak artikel nyuruh kita pakai aturan 50-30-20. Buat mahasiswa rantau, aturan itu kadang nggak masuk akal karena uang bulanan kita nggak sebesar gaji karyawan. Jadi gue pakai versi yang lebih realistis, gue sebut aja "bagi pos dulu, jajan belakangan".
Pisahkan uang berdasarkan pos, bukan berdasarkan tanggal
Begitu uang bulanan masuk, langsung bagi ke beberapa pos: kos dan tagihan, makan, transportasi, kebutuhan kampus (print, buku, kuota), dana darurat kecil, dan baru terakhir uang senang-senang. Gue biasanya pakai rekening terpisah atau dompet fisik berbeda buat tiap pos. Trik dompet fisik ini kelihatan kuno, tapi efeknya nyata: kamu jadi sadar kalau uang makan tinggal segitu, jadi nggak akan dipakai buat beli baju.
- Pos wajib dulu: kos, listrik, air, kuota. Ini dibayar di awal, jangan ditunda.
- Pos makan: hitung per hari, misalnya 30 ribu. Kalau hari ini kurang, besok nggak boleh lebih.
- Pos darurat kecil: sisihkan 10 persen buat keperluan mendadak kayak sakit atau tugas dadakan.
- Pos senang-senang: tetap ada, tapi paling kecil. Kamu tetap butuh healing, kok.
Tips Receh yang Beneran Ngaruh buat Anak Rantau
Selain bagi pos, ada beberapa kebiasaan kecil yang gue rasain efeknya gede. Pertama, masak sendiri minimal tiga kali seminggu. Nggak perlu ribet, nasi plus telur plus sayur udah cukup. Biaya makan sebulan bisa turun hampir setengah dibanding terus-terusan beli di luar.
Kedua, hindari belanja online pas lagi stres atau bosan. Ini jebakan klasik. Gue pernah beli tiga kaos yang nggak pernah gue pakai cuma gara-gara lagi suntuk ngerjain revisi. Sekarang, kalau mau beli sesuatu, gue tunda 24 jam dulu. Kalau besoknya masih pengin, baru beli. Seringnya, besoknya gue udah lupa.
Ketiga, cari teman yang bisa diajak hemat bareng. Masak bareng, patungan kuota, atau nebeng bareng ke kampus. Hidup hemat itu jauh lebih gampang kalau ada temennya. Kalau sendirian, godaan buat ikut nongkrong mahal jadi lebih besar.
Keempat, jangan malu bilang "nggak ada budget" ke teman. Ini yang paling berat buat gue di awal. Rasanya kayak nggak asik. Tapi lama-lama gue sadar, teman yang beneran teman nggak akan maksa kamu ikut ngopi mahal kalau kamu bilang lagi bokek. Malah biasanya mereka ikut hemat juga.
Kalau Kamu Masih Boncos, Itu Normal
Gue nggak akan bilang ngatur uang itu gampang. Kenyataannya, gue sendiri masih sering salah hitung atau kalap belanja. Bedanya sekarang, gue tahu harus ngapain setelahnya: evaluasi, bukan nyalahin diri terus-terusan. Coba lihat lagi catatan seminggu terakhir, cari pos mana yang bocor, dan perbaiki bulan depan.
Yang penting diingat, ngatur pengeluaran itu bukan soal jadi pelit atau nggak bisa seneng-seneng. Ini soal bikin uang kamu bertahan lebih lama supaya kamu nggak panik di tanggal tua. Buat mahasiswa rantau yang jauh dari orang tua, kemampuan ini bukan cuma soal uang, tapi soal mandiri.
Jadi, mulai minggu ini, coba catat pengeluaran kamu selama tujuh hari. Nggak perlu sempurna. Yang penting kamu mulai lihat ke mana duit kamu pergi. Siapa tahu, keran yang bocor itu akhirnya ketemu juga.