Dulu gue mikir, ngatur keuangan itu urusan orang yang duitnya udah banyak. Ada aplikasi, ada spreadsheet, ada konsultan. Sementara gue dan istri, baru pindah ke Jakarta, punya bayi umur delapan bulan, dan tabungan yang kalau dipakai buat beli kopi tiap pagi pun bakal habis dalam sebulan.
Jadi waktu itu gue sempat skeptis. Gimana mau ngatur pengeluaran kalau uangnya aja pas-pasan? Ternyata pikiran itu yang bikin kita makin boncos. Bukan karena nggak punya modal buat "sistem keuangan", tapi karena kita nunggu kondisi ideal yang nggak pernah datang.
Modal Nol Bukan Alasan Nunda Mulai
Yang gue sadari pertama kali: alat buat ngatur duit itu nggak harus beli. Nggak perlu langganan aplikasi premium, nggak perlu ikut kelas finansial yang harganya sejuta. Waktu itu kami cuma pakai buku tulis bekas anak kos sebelah yang udah pindah, plus pulpen yang ada di meja.
Baca juga: Cara Gue Bertahan Hidup sebagai Freelancer Tanpa Gaji Tetap
Kedengarannya receh, tapi efeknya besar. Setiap malam, selesai bayi tidur, kami duduk sepuluh menit dan nulis semua yang keluar hari itu. Nggak rapi, nggak ada grafik warna-warni. Cuma tanggal, keterangan, nominal. Kadang tulisan istri gue lebih mirip cakar ayam daripada catatan keuangan.
Tapi justru dari situ kami mulai lihat pola. Ternyata pengeluaran terbesar kami bukan di makan besar atau jajan, tapi di hal-hal kecil yang nggak kerasa: ongkos ojek online yang dipakai buat jarak 800 meter, susu bayi yang kebeli dua merek karena lupa stok, dan uang "dadakan" buat tetangga yang nikahan.
Yang bikin bocor itu bukan pengeluaran besar yang kelihatan. Tapi rembesan kecil yang kita anggap wajar.
Gue nggak bilang buku tulis bakal nyelametin hidup kamu. Tapi buat kami, itu titik balik. Karena dari situ kami punya data, dan data itu yang bikin kami berani ngomong soal duit tanpa ribut.
Cara Kami Bagi Duit di Awal Bulan
Setelah sebulan nyatat, kami coba bikin pembagian sederhana. Nggak pakai persentase rumit kayak 50/30/20, karena jujur aja, dengan gaji yang masuknya nggak selalu di tanggal sama, angka-angka itu kerasa ngawang.
Yang kami lakukan cuma tiga langkah:
- Pisahkan yang wajib. Kos, listrik, air, susu bayi, dan cicilan. Ini kami hitung duluan dan langsung disisihkan di hari gajian, sebelum sempat kepakai buat hal lain.
- Sisakan buat hidup. Belanja dapur, transportasi, pulsa. Kami kasih batas atas, bukan target. Kalau bisa lebih hemat, ya syukur.
- Sisihkan recehan buat "darurat kecil". Bukan dana darurat besar yang bikin minder karena angkanya nggak mungkin. Cukup Rp200 ribu sebulan yang disimpan di celengan terpisah.
Dana darurat kecil ini yang paling ngebantu. Waktu ban motor bocor atau bayi demam tengah malam, kami nggak perlu pinjam atau geser uang belanja. Kecil, tapi napas kami jadi lebih panjang.
Soal waktu: sepuluh menit lebih baik daripada nol
Banyak yang bilang nggak punya waktu buat ngurus keuangan. Gue ngerti, karena gue juga kerja, dan istri gue ngurus bayi seharian. Tapi yang kami lakukan bukan bikin laporan keuangan kayak perusahaan. Cuma sepuluh menit tiap malam, kadang sambil ngobrol receh soal hari itu.
Yang penting konsisten, bukan lamanya. Kalau seminggu aja bolong, kami nggak panik. Besoknya dilanjut lagi. Nggak perlu drama merasa gagal.
Yang Justru Bikin Kami Bertahan
Jujur aja, yang bikin kami bertahan bukan disiplin besi. Justru sebaliknya. Kami bikin aturan yang gampang dilanggar tanpa rasa bersalah. Misalnya, kami tetap jajan sesekali, tetap beli kopi kekinian seminggu sekali. Karena kalau semua dilarang, yang ada kami berhenti nyatat sama sekali.
Gue inget banget waktu itu istri gue bilang, "Yang penting kita tahu ke mana duitnya pergi, bukan kita nggak boleh pergi ke mana-mana." Kalimat itu yang gue pegang sampai sekarang.
Dan satu lagi: kami berhenti bandingin kondisi kami sama keluarga lain di media sosial. Itu sumber bocor yang paling nggak kelihatan. Lihat tetangga liburan, lihat teman beli gadget baru, dan tiba-tiba pengeluaran kami ikut naik tanpa alasan jelas.
Kalau kamu sekarang ada di posisi yang mirip kayak kami dulu, nggak punya modal dan waktu, coba mulai dari yang paling sederhana. Buku tulis, pulpen, sepuluh menit tiap malam. Nggak usah nunggu punya aplikasi atau punya gaji lebih besar. Karena yang bikin kamu maju bukan alatnya, tapi kebiasaan kecil yang kamu ulang terus.
Gue nggak akan bilang ini resep sukses. Ini cuma cerita kami yang masih jalan sampai sekarang. Kadang masih bocor, kadang masih bingung. Tapi setidaknya kami tahu ke mana duit kami pergi, dan itu udah bikin tidur lebih tenang.